- Titz
I'm walking up from my summers dreams again
try to thinking if you're alright
then I'm shattered by the shadows of your eyes
knowing you're still here by my side
Reff:
I can see you if you're not with me
I can say to my self if you're OKAY
I can feel you if you're not with me
I can reach you my self, yuo show me the way
life was never be so easy as it seems
'till you come and bring your love inside
no matter space and distance make it look so far
still I know you're still here by my side
Back to reff
Bondan:
yea..you've made me so alive ,you give the best for me..love and fantasy
yeah..and i never feel so lonely, coz you're always here with me..yeah..always here with me
Back to reff
I'm walking up from my summers dreams again
try to thinking if you're alright
then I'm shattered by the shadows of your eyes
knowing you're still here by my side
Jumat, 07 Juni 2013
Lirik Lagu Not With Me
Lirik Lagu Realistic
Titz:
Bumi tahtaku terbagi 2 bilik
Dari pilihan taktik strategic hasilkan lirik
Nusa nan sempit sudah lama kutampik
Tapi pertahanan butuh senjata otomatik
Santoz:
Agar seimbang tak setajam pisau pedang
Yang tak pernah berhenti dan terus berulang
Kunci kehidupan memang bukan mainan
Hapus hitam menyelebat bagai bayangan
Titz:
Berat dosa bukanlah ada di pundak kanan
Mungkin di suatu tempat yg tak pernah terpikirkan
Banyak yg melatih lidah berkata-kata indah
Menganggap hidup di pijak milik nenek moyangnya
Santoz:
Shit! things would never be da same
Coba kontroversi biar mirip eminem
Percuma lidah bersumpah klo menyerah bah!
Berarti kau bukan apa2 hanyalah sampah
Mr. B:
Heey!! (What?!) U Should think Realistic!! (Yeah!)
Heey!! (What?!) U Should think Realistic!! (Right!!)
Titz:
Coba tuk pikirkan lebih dewasa
Genggam yg benar, hindari yg salah
Santoz:
Susah? lubang basah pusat indra pun terjarah
Parah… jika otak tak pernah enyam amanah
Titz:
Pada mic ku bicara dengan nada teriak (waaatt!!)
Terus teriak walau suaraku jadi serak
Santoz:
Dahak mengalir deras bagai arus Niagara
Kejar ambisi agar hidup capai titik sempurna
Reff:
Am F
Think Realistic don’t be phathetic
G Em
Bikin semua simple lewati alur yg static
Am F
Turn it to positive don’t think negative
G Em
Rubah semua maksimal lewati alur pasif (2x)
Am (Break)
Santoz:
Sama rata sama rasa
Nikmati hidup hendaklah di bagi bersama
Nafsu kan jadikan hina nestapa
Coba hindari maka kau hidup bahagia
Titz:
Tunjukkan sesuatu yg ada di dalam diri
Katakan yg ingin kau katakan kepada kami
Karena ku coba untuk mengerti
Apa hidup ini hanya untuk menunggu mati
Santoz:
Semua menghampa terasa tak berarti
Jika berkata tapi tanpa jati diri
Titz:
Seperti/lempar batu sembunyi tangan
Kau coba belagu kau sendiri yg rasakan
Back To Mr. B & Reff:
Am (Break)
Titz:
Ga peduli pemula atau pun tetua
Santoz:
Semua sama masih belajar atau pun masta
Bermetamorfosis menjadi bentuk nyata
Titz:
Adalah fakta biar pena dan tinta berbicara
Santoz:
Tak ada yg tipuan komposisi
Karena semua dapat befikir tumpahkan isi
Titz:
Smua saling menyokong tutup smua bolong
Hanya saja engkau jangan sembunyi di balik bokong… Ough!!
Jumat, 31 Mei 2013
Just Call Me Fad..(Bumi Ginko): Aku Pos kan Untukmu...
Just Call Me Fad..(Bumi Ginko): Aku Pos kan Untukmu...: First writer, Kau izinkan atau tidak, aku kau tinggalkan mengisi pelabuhan pemikiran mu...di sini. Tingkah mu.... seperti yang sering...
Rabu, 29 Mei 2013
TAFSIR PERASANGKA BURUK
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Hujuraat : 12)
Asbabun nuzulnya:
Ayat ini turun berkenaan dengan seorang sahabat yang bernama Salman Al-Farisi apabila selesai makan, dia suka terus tidur dengan mendengkur. Pada waktu itu ada salah seorang yang mempergunjingkan perbuatannya, sehingga sampai terdenganr oleh nabi. Maka turunlah ayat ini yang melarang seseoarang mengumpat dan menceritakan kejelekan atau keaiban orang lain.
Ayat ini memulai dengan perkataan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang beriman yang berbunyi: (يا يهاالذ ين امنوا اجتنبوا كثيرا من الظن) hai orang-orang yang beriman jahuilah oleh kalian kebanyakan buruk sangka terhadap sesama muslim, maksudnya ayat ini melarang orang beriman berburuk sangka terhadap orang lain bukan hanya kepada orang islam saja, tetapi berlaku untuk umum atau semua orang. Dengan bertujuan agar terhindar dari bisikan-bisikan yang bisa merampas kebaikan yang ada dalam dirinya yang dilontarkan oleh sekitarnya, dan menjaga kehormatan setiap individu. Kemudian ayat ini memberikan sebuah penekanan yang berbunyi (ان بعض الظن اثم) sesungguhnya berburuk sangka sesama muslim (semua orang) dengan persangkaan yang buruk adalah dosa. Adapun riwayat yang mendukung ayat diatas adalah sebagai berikut:
Dalam sebuah riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda; “Hindarilah olehmu berburuk sangka karena buruk sangka itu berita yang amat dusta, dan janganlah kamu memata-matai orang lain, jangan mecari-cari berita tentangnya, jangan saling mengungguli dalam jual beli, jangan saling membenci dan jangan saling mendiamkan. Tidak dijakan kalian hamba-hamba Allah yang bersauadara . Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudarnya lebih dari tiga hari.
Riwayat lain, dari Abu Barzakh Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hai orang-orang yang beriman dengan lidahnya tetapi iman tidak masuk dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang Islam dan jalanlah kamu meneliti cacat-cacat mereka, karena baraang siapa yang meneliti cacat orang Islam, maka Allah akan meneliti cacatnya. Dan barang siapa yang diteliti cacatnya oleh Allah, maka dia akan dibukakan cacatnya ditengan rumahnya sendiri.
At-Tabrani juga meriwayatkan dari Harisah Ibnu Nu’mam ra. bahwa Rosulullah saw. bersabda: “Ada tiga hal yang lekat pada umatku, yaitu tayyarah (menduga hal buruk), dengki dan zhann (berburuk sangka terhadap orang lain). Seseorang laki-laki bertannya, “apakah yang dapat menghilangkan hal tersebut, ya Rasulullah dari orang yang memiliki sifat-sifat seperti itu?”, Rasulullah bersabda “ apabila kamu mendengki maka mohon ampunan kepada Allah, dan apabila kamu buruk sangka maka janganlah kamu memeriksa benar tidaknya, dan apabila kamu menduga maka laksanakan saja rencanamu.”
Menurut Sayyid Quthub, tatkala larangan disandarkan atas banyak berperasangka, sedang aturannya menyebutkan bahawa sebagian perasangka itu merupakan dosa, maka pemberitahuan dengan ungkapan ini intinya agar manusia menjahui buruk sangka apapun yang akan menjerumuskaannya kedalam dosa. Sebab, ketidak tauan sangkaannya yang manakah yang menimbulkan dosa. Sedang Al-Maraghi berpendapat bahwa, persangkaan yang buruk itu diharamkan terhadap orang yang disaksikan sebagai orang yang menutupi aibnya, sholeh, dan terkenal amanatnya. Adapun orang yang mempertontonkan diri sebagai orang yang gemar melakukan dosa, seperti orang yang masuk ke tempat-tempat pelacuran atau berteman dengan penyayi yang cabul, maka tidaklah diharamkan berburuk sangka terhadapnya. Dari urian pendapat diatas penulis berpendapat bahwa, boleh seseorang itu berburuk sangka kalau memang sudah terbukti orang tersebut orang yang tidak baik, tetapi untuk orang yang sudah baik maka tidak boleh sesorang untuk berperasangka terhadapnya karena hal itu diharamkan, seperti dalam sebuah riwayat mengatakakan, “sesungguhnya Allah mengharamkan darah dan kehormatan orang Islam, dan disangka dengan perasangkaan yang buruk”. Sehingga dalam konteks perasangka buruk, itu tidak boleh bagi orang yang baik, boleh bagi orang yang buruk akhlak.
Setelah Allah SWT. Menyuruh untuk menjauhi kebanyakan buruk sangka, maka Allah melarang pula dari mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. yang berbunyi, (ولا تجسسوا ولايغتب بعضكم بعضا) adapun hadits yang mendukung dengan potongan ayat ini seperti riwayat yang diatas adalah riwayat bukhari dan muslim dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda; “Hindarilah olehmu berburuk sangka karena buruk sangka itu berita yang amat dusta, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, jangan mecari-cari berita tentangnya, jangan saling mengungguli dalam jual beli, jangan saling membenci dan jangan saling mendiamkan. Tidak dijakan kalian hamba-hamba Allah yang bersauadara . tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudarnya lebih dari tiga hari.”
Ada beberapa pengertian mengenai At-Tajassus sebagai berikut;
- At-Tajassus (memata-matai) adalah mencari-cari apa yang tersembunyi darimu.
- At-Tajassus (merasa-rasai) adalah mencari-cari berita mengenai saudaramu.
- At-Tajassus maksudnya berjual beli atas jual beli orang lain dengan cara saling mengungguli harga.
Menurut Sayyid Quthub, At-Tajassus kadang-kadang merupakan kegiatan yang mengiringi dugaan dan kadang-kadang sebagai kegiatan awal untuk menyingkap aurat dan mengetahui keburukan. Adapun dalil-dalil hadits yang memperjelas dan memperkuat ayat diatas adalah sebagai berikut;
Imam ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad Dijjin, sekretaris Uqbah, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda; “Barangsiapa yang menutupi aib seorang mukmin, dia bagaikan menggali anak yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya.”
Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Rasyid bin Sa’ad, dari Mu’awiyah bin Abi Safyan, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu menyelidiki aib manusia, berarti kamu mencelakakan mereka atau nyaris mencelakakan mereka.”
Sedang ayat yang berbunyi, janganlah kamu menggunjingkan atau mencaci maki satu sama lain dengan sesuatu yang tidak disukai, maksudnya adalah menyebut-nyebut dengan terang-terangan, atau dengan isayarat, atau dengan cara lain yang dikategorikan gunjingan. Karena hal yang demikian dapat mengakibatkan api amarah orang yang digunjing, karena hati seseorang apabila diusik dengan sesuatu yang tidak mengenakan akan tersa sakit walau hal yang digunjingkan itu tidak sesuai dengan kennyataannya, apalagi sesuai dangan kennyataan. Adaapun sesuatu yang tidak disukai ketika digunjingkan adalah mengenai hartanya, agama, rupa, akhlak, harta, anak istri, pembantu, pakaian, dan lain-lain. menurut al-Hasan ghibah adalah kamu berkata-kata mengenai kejelekan orang lain tentang hal-hal yang ada padanya, atau hal-hal yang tidak ada padanya. Selanjutnya Allah memberikan perumpamaan bagi orang yang suka buruk sangka dan ghibah, dengan perumpamaan orang yang memakan daging saudarnya yang sudah mati. mengapa Allah memberikan perumpaman demikian? Karena ghibah tersebut berarti merobek-robek kehormatan, menghancurkan hati, yang serupa dengan merobek-robek daging. Kalau seseorang tidak mau atau tidak suka melakukannya maka janganlah berbuat demikian, karena hal itu merugikan dirisendiri dan orang lain.
Diakhir ayat tersebut berbunnyi (واتقواالله ان الله تواب رحيم) dan bertaqwalah kepada Allah (atas apa yang diperintahkan dan dilarang terhadapmu, waspadlah dan takutlah kepada Allah) sesungguhnya Allah menerima taubat (dari orang yang mau bertaubat kepadanya atas dosa yang ia telah lakukan) lagi maha belaskasih sayang terhadap orang yang mau bertau bat kepadanya.
B. Cara Menghindari Buruk Sangka
Adapun solusi untuk menghidari ghibah dan buruk sangka adalah sebagai berikut;
- Berteman dengan orang-orang yang baik atau benar dalam tuturkata, sehingga bisa masuk dalam budipekertinya dan merasa nyaman bila bersamanya karena mereka adalah perisai ketika mengalami musibah dan hiasan ketika senang.
- Jangan mudah bersumpah kepada orang lain, karena dengan mudah bersumpah bisa membuka peluang adannya ghibah, tetapi berikanlah jawaban yang pasti jangan meragukan.
- Jangan bertannya tentang sesuatu yang tidak ada pada orang lain, sehingga sesuatu itu seolah-olah ada pada dirinya.
- Jangan berbicara sesuatu yang tidak mengenakkan kepada orang yang diajak bicara.
- Berkatalah dengan jujur bila ditanya tentang diri yang diajak bicara, walau hal itu menyakitkanya.
C. Macam-macam Kebolehan ghibah
Ghibah tidak haram apabila dengan tujuan yang benar menurut syara’ yang tidak mungkin tujuan itu tercapai dengan melakukan ghibah adalah sebagai berikut:
- Penganiayaan dalam rumah tangga maksudnya orang dianiaya boleh mengadukan halnya kepada orang yang ia sangka, baik pengaduan secara keluarga, kepolisi atau pengadilan.
- Meminta tolong untuk merubah keburukannya dengan cara menceritakan semua kejelakannya dengan masud supaya sadar dengan keburukannya.
- Memberi peringatan atau rambu-rambu agar waspada seperti cacatnya para perowi dan orang yang berani memberi fatwa, padahal bukan ahlinya.
D. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan bahwa buruk sangka itu tidak boleh dilakukan kepada orang yang sholeh, sedang kepada orang yang buruk akhlak boleh dilakukan hanya untuk kehati-hatian atau kewaspadaan terhadapnya, sedangan ghibah tidak boleh atau haram apalagi disebar luaskan baik orang yang buruk akhlak atau orang yang sholeh. Dengan pengecualian yaitu untuk tujuan yang benar menurut syarat yang tidak mungkin tujuan itu tercapai dengan melakukan ghibah itu dibolehkan. Keburakan seseorang itu bisa terhapus menjadi bersih dengan cara bertaubat menyesali perbuatannya dengan sungguh-sungguh tidak mengulanginya, dan meminta maaf terhadap orang yang pernah dighibah atau yang diburuk sangkai.
E. Penutup
Demikian yang bisa penulis sampaikan mudah-mudahan bermanfaat, apabila ada penulisan yang salah atau penjelasannya yang kurang tepat, penulis mohon kritik dan saran yang membangun, agar penulis lebih sempurna lagi dalam menyusun makalah.
F. Referensi
- Al-Quran dan Terjemah di Microsoft Word. Surat Al-Hujuraat ayat 12.
- K.H.Q. Shalaeh dkk, Asbabun Nuzul (latar belakang historis turunnya ayat-ayat Al-Qur’an). Bandung: CV Diponegoro. 2000.
- Sayyid Quthub, Penerjemah; As’ad Yasin, dkk. Tafsir fi Zhailail-Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press, 2004.
- Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Penerjemah; Bahrun Abu Bakar, dkk. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV Toha Putra. 1993.
Senin, 20 Mei 2013
Kematian (Ternyata) Tak Datang Tiba-Tiba
Menuju alam yang belum pernah ku ketahui wujudnya. Aku masih belum juga tersadarkan.
Kematian itu datang tak mengetuk pintu. Mencerabut manusia dari orang-orang terkasihnya tak peduli ia miskin atau kaya, tua atau muda, sengsara atau bahagia, siap atau tidak siap menyambutnya. Masih saja aku bergeming. Menganggap kematian itu masih jauh dariku. Kematian adalah milik orang lain. Aku? Entahlah . . .yang jelas aku yakin ia masih jauh dariku. Lihat saja tubuhku yang bugar, lenganku yang kokoh, pandangan mataku yang tajam, langkah kakiku yang tegap, tak ada satupun yang menunjukkan bahwa aku pantas dijemput maut. Aku senantiasa menjaga kebugaran tubuhku. Olahraga dan suplemen menjadi makananku sehari-hari. Pun check up rutin kulakukan setahun sekali. Sungguh, saat ini aku tak yakin kematian akan menghampiriku.
Hingga sore tadi tubuhku menggigil. Bukan, bukan karena sakit, karena seperti kubilang tadi, aku rajin berolahraga, minum vitamin, dan berobat rutin ke dokter. Aku tergetar oleh sebuah pesan singkat yang singgah di selulerku. Seorang sahabat (lagi-lagi) meninggalkanku tanpa pamit. Seorang sahabat yang pagi pagi tadi masih kunikmati tawanya berderai-derai, tegap badannya yang gagah, langkah kakinya yang tegap, pandangan matanya yang tajam...
Oh kematian...pelajaran apa yang hendak kau bagi kali ini?
Bahwa kematian itu datang tiba-tiba?
Bahwa kita tak pernah tahu kapan ia menjemput kita?
Bahwa kematian yak mungkin menghampiri kita di usia belia?
Benarkah?
Bukankah Dia telah mengingatkan kita dalam Kitab Nya yang sempurna bahwa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati?
Bukankah Dia juga mengingatkan melalui lisan utusan Nya yang mulia bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak menyiapkan bekal untuk kehidupan akhiratnya?
Bukankah Dia telah "memvonis" saat kepulangan kita seiring dengan saat Dia tiupkan ruh di jasad kita? Sungguh, berulang kali Dia mengingatkan kita akan suatu kepastian ini. Masihkah kita menganggap bahwa kematian itu datang tiba-tiba?
Kematian itu datang tak mengetuk pintu. Mencerabut manusia dari orang-orang terkasihnya tak peduli ia miskin atau kaya, tua atau muda, sengsara atau bahagia, siap atau tidak siap menyambutnya. Masih saja aku bergeming. Menganggap kematian itu masih jauh dariku. Kematian adalah milik orang lain. Aku? Entahlah . . .yang jelas aku yakin ia masih jauh dariku. Lihat saja tubuhku yang bugar, lenganku yang kokoh, pandangan mataku yang tajam, langkah kakiku yang tegap, tak ada satupun yang menunjukkan bahwa aku pantas dijemput maut. Aku senantiasa menjaga kebugaran tubuhku. Olahraga dan suplemen menjadi makananku sehari-hari. Pun check up rutin kulakukan setahun sekali. Sungguh, saat ini aku tak yakin kematian akan menghampiriku.
Hingga sore tadi tubuhku menggigil. Bukan, bukan karena sakit, karena seperti kubilang tadi, aku rajin berolahraga, minum vitamin, dan berobat rutin ke dokter. Aku tergetar oleh sebuah pesan singkat yang singgah di selulerku. Seorang sahabat (lagi-lagi) meninggalkanku tanpa pamit. Seorang sahabat yang pagi pagi tadi masih kunikmati tawanya berderai-derai, tegap badannya yang gagah, langkah kakinya yang tegap, pandangan matanya yang tajam...
Oh kematian...pelajaran apa yang hendak kau bagi kali ini?
Bahwa kematian itu datang tiba-tiba?
Bahwa kita tak pernah tahu kapan ia menjemput kita?
Bahwa kematian yak mungkin menghampiri kita di usia belia?
Benarkah?
Bukankah Dia telah mengingatkan kita dalam Kitab Nya yang sempurna bahwa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati?
Bukankah Dia juga mengingatkan melalui lisan utusan Nya yang mulia bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak menyiapkan bekal untuk kehidupan akhiratnya?
Bukankah Dia telah "memvonis" saat kepulangan kita seiring dengan saat Dia tiupkan ruh di jasad kita? Sungguh, berulang kali Dia mengingatkan kita akan suatu kepastian ini. Masihkah kita menganggap bahwa kematian itu datang tiba-tiba?
Selasa, 07 Mei 2013
MENGENALI AKHIRAT DENGAN JIWA
"Hati yang tercerahkan mempunyai jendela yang terbuka ke arah dunia ruhani
sehingga ia dapat mengetahui penyebab segala kerusakan dan kebahagiaan. Ia
mengetahui bukan dari kabar angin atau kepercayaan tradisi...onal, melainkan
bisa dialami secara nyata. Sangat jelas dan nyata, sejelas seorang dokter yang
mengetahui penyebab penyakit atau masalah kesehatan.
Ia akan mengetahui bahwa pengetahuan tentang Allah dapat menjadi obat bagi jiwa, sedangkan kejahilan dan dosa akan menjadi racun yang merusak.
Banyak orang, termasuk ulama, karena taklid buta terhadap pendapat orang lain, tak punya keyakinan yang benar mengenai kebahagiaan datau penderitaan jiwa di akhirat. Sedangkan, orang yang mau mempelajari hal ini dengan pikiran yang bersih dari prasangka akan sampai pada keyakinan yang. Jelas tentang masalah ini.
Kematian akan mengakibatkan keadaan berbeda pada dua jenis jiwa yang dimiliki manusia, yakni jiwa hewani dan jiwa ruhani. Jiwa ruhani bersifat malakut.
Sementara jiwa hewani bertempat di hati, dari sana menyebar seperti uap ke semua anggota tubuh, memberi tenaga atau kemampuan melihat pada mata, mendengar pada telinga, dan seluruh anggota tubuh lainnya sehingga mereka dapat menjalankan fungsinya.
Hal ini seperti sebuah lampu di sebuah pondok yang cahayanya menyebar ke dinding-dinding. Hati adalah sumbu lampu ini, dan jika aliran minyaknya terputus karena suatu sebab, maka lampu ini akan mati. Seperti itulah jiwa hewani mengalami kematian.
Ini berbeda dengan jiwa ruhani atau jiwa manusiawi.
Ia akan mengetahui bahwa pengetahuan tentang Allah dapat menjadi obat bagi jiwa, sedangkan kejahilan dan dosa akan menjadi racun yang merusak.
Banyak orang, termasuk ulama, karena taklid buta terhadap pendapat orang lain, tak punya keyakinan yang benar mengenai kebahagiaan datau penderitaan jiwa di akhirat. Sedangkan, orang yang mau mempelajari hal ini dengan pikiran yang bersih dari prasangka akan sampai pada keyakinan yang. Jelas tentang masalah ini.
Kematian akan mengakibatkan keadaan berbeda pada dua jenis jiwa yang dimiliki manusia, yakni jiwa hewani dan jiwa ruhani. Jiwa ruhani bersifat malakut.
Sementara jiwa hewani bertempat di hati, dari sana menyebar seperti uap ke semua anggota tubuh, memberi tenaga atau kemampuan melihat pada mata, mendengar pada telinga, dan seluruh anggota tubuh lainnya sehingga mereka dapat menjalankan fungsinya.
Hal ini seperti sebuah lampu di sebuah pondok yang cahayanya menyebar ke dinding-dinding. Hati adalah sumbu lampu ini, dan jika aliran minyaknya terputus karena suatu sebab, maka lampu ini akan mati. Seperti itulah jiwa hewani mengalami kematian.
Ini berbeda dengan jiwa ruhani atau jiwa manusiawi.
Jiwa ruhani tak terbagi dan dengan jiwa itulah manusia dapat mengenali Allah. Bisa dikatakan, ia merupakan pengendara bagi jiwa hewani. Dan, ketika jiwa hewani musnah, jiwa ruhani tetap ada. Keadaannya serupa dengan penunggang kuda yang telah turun atau pemburu yang tak lagi bersenjata.
Kuda dan senjata itu adalah anugerah bagi jiwa ruhani agar ia bisa mengejar dan menangkap keabadian cinta dan pengetahuan tentang Allah. Jika berhasil, ia pasti akan merasa lega dan bahagia meski senjata atau tunggangannya telah meninggalkan dirinya; ia tak akan berkeluh kesah.
Maka dari itu, Rasulullah Saw bersabda, "Kematian adalah hadiah Tuhan yang diharap-harapkan kaum beriman." Namun demikian, ia akan celaka dan menderita jika kuda atau senjata itu telah hilang sedang ia belum berhasil meraih tujuannya. Kesedihan dan penyesalannya sangat tak terbayangkan."
--Imam Al-Ghazali dalam Kimiya As-Sa'adah
Minggu, 05 Mei 2013
: PERKARA YANG DAPAT MERUSAK AMAL-AMAL BAIK :::
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
1. Al istighlal bi’uyubil kholqi (sibuk dengan aib orang lain) sehingga lupa pada aib sendiri. Semut diseberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.
2. Qaswatul qulub (hati yang keras)
Kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang.Sulit menerima nasehat.
3. Hubbun dunya (cinta mati terhadap dunia)
Merasa hidupnya hanya di dunia saja maka segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di
akhirat.
4. Qillatul haya’(sedikit rasa malunya)
Jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.
5. Thulul amal (panjang angan-angan)
Merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.
6. Dhulmun la yantahi (kezaliman yang tak pernah berhenti)
Perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk
meninggalkan kemaksiatan tsb.
Semoga kita semua dijauhkan dari 6 perkara ini sehingga
tetap istiqomah dalam ketaqwaan..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
1. Al istighlal bi’uyubil kholqi (sibuk dengan aib orang lain) sehingga lupa pada aib sendiri. Semut diseberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.
2. Qaswatul qulub (hati yang keras)
Kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang.Sulit menerima nasehat.
3. Hubbun dunya (cinta mati terhadap dunia)
Merasa hidupnya hanya di dunia saja maka segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di
akhirat.
4. Qillatul haya’(sedikit rasa malunya)
Jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.
5. Thulul amal (panjang angan-angan)
Merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.
6. Dhulmun la yantahi (kezaliman yang tak pernah berhenti)
Perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk
meninggalkan kemaksiatan tsb.
Semoga kita semua dijauhkan dari 6 perkara ini sehingga
tetap istiqomah dalam ketaqwaan..
Langganan:
Postingan (Atom)
