Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 April 2015
EMPAT PERKARA YANG TIDAK MERUGIKAN
Setiap orang, apalagi sebagai muslim, pasti menginginkan keberuntungan dalam hidupnya. Karenanya, manusia biasanya selalu berusaha untuk meraih keberuntungan itu, baik berupa ma
Materi, kepercayaan dari orang lain yang kemudian membawa keberuntungan, jabatan yang tinggi, popularitas yang tidak tertandingi , keturunan yang menyenangkan dan sebagainya. Namun tidak semua keinginan duniawi manusia bisa diraihnya. Ada banyak orang yang berambisi untuk mendapatkan banyak hal dari kenikmatan duniawi tapi dia tidak memperolehnya.
Bagi seorang muslim, manakala keinginan duniawinya tidak tercapai, dia tidak akan menganggap hidupnya menjadi sia-sia, apalagi sampai putus asa. Masih ada harapan yang lebih mulia untuk diraihnya, yakni keridhaan Allah dan syurga yang penuh dengan kenikmatan. Karenanya bila kenikamatan duniawi itu tidak diraihnya, dia tidak merasa hal itu sebagai suatu kerugian besar, karena yang rugi bukanlah orang yang tidak memperoleh kenikmatan duniawi, Allah berfirman yang artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal shaleh, nasihat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi keshabaran (QS 103:1-3).
Oleh karena itu, ada satu hadits Nabi Muhammad Saw yang memberikan resep kepada kita untuk merasa tidak rugi dalam menjalani kehidupan di dunia ini hanya karena tidak memperoleh kenikmatan duniawi. Rasulullah Saw bersabda:
Empat perkara, apabila keempatnya ada padamu, maka tidak merugikan engkau dari apa yang tidak engkau peroleh dari dunia, yaitu: benar dalam berbicara, menjaga amanat, akhlak yang baik dan tidak serakah dalam makanan (HR. Ahmad, Thabrani, Hakim dan Baihaqi).
EMPAT RESEP.
Dari hadits di atas, terdapat empat resep dari Rasulullah Saw agar seandainya kita tidak memperoleh apapun dari kenikmatan duniawi, kita tidak menganggapnya sebagai kerugian yang besar, sebab masih ada keberuntungan yang lebih besar lagi dan justeru hal itu memberikan kenikmatan tersendiri dalam hidup ini.
1. Benar Dalam Berbicara.
Bicara yang benar merupakan salah satu dari ciri orang yang beriman. Karena itu, bila seseorang benar dalam berbicara, maka dia telah memenuhi salah satu syarat guna memperoleh jaminan syurga. Rasulullah Saw bersabda:
Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara diantara rahangnya (mulutnya) dan diantara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya syurga (HR. Bukhari).
Orang yang kaya, cantik atau gandeng, populer, tinggi kedudukannya bahkan dianggap terhhormat di dalam masyarakat, tapi kalau sudah tidak benar dalam berbicara, maka dia akan menjadi manusia yang sangat hina dihadapan Allah dan rendah kedudukannya dihadapan sesama manusia. Oleh karena itu, sebagai muslim kita punya keharusan yang sangat untuk menjaga bahaya lidah.
Untuk itu, setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk berusaha selalu benar dalam berbicara, baik benar dalam masalah yang dibicarakan maupun benar penggunaan bahasanya. Itu pula sebab, mengapa salah satu satu tanda orang munafik adalah dusta atau bohong dalam pembicaraannya. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa setiap pembicaraan ada pertanggung-jawabannya dihadapan Allah Swt, karenanya ucapan kita itu dicatat oleh Malaikat yang selalu menyertai manusia di kanan dan kirinya, Allah berfirman yang artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (QS 50:18).
2. Menjaga Amanat.
Kehidupan di dunia ini tak lepas dari amanat. Jasmani yang sehat, harta yang banyak, ilmu yang luas, kedudukan yang tinggi merupakan amanat yang diberikan Allah Swt kepada kita. Belum lagi kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita dalam berbagai hal. Semua amanat itu harus dijaga, dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Karena itu, manakala seseorang tidak memiliki sifat amanat, keimanan dianggap tidak ada pada dirinya dan manakala dia selalu mengkhianati amanat yang diberikan kepadanya, maka dia dianggap tidak memiliki agama, meskipun dia penganut agama. Rasulullah Saw bersabda:
Tidak beriman orang yang tidak memegang amanat, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati (HR. Ahmad).
Dengan demikian, manakala kita memiliki harta, menunaikan amanatnya adalah dalam bentuk membelanjakannya untuk kebaikan, jasmani yang sehat untuk mengabdi kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya, ilmu yang luas untuk meningkatkan matabat kehidupan manusia, sedangkan kedudukan yang tinggi untuk menegakkan kebenaran. Oleh karena itu, manakala kita ingin memberikan amanah kepada seseorang, berikanlah kepada orang yang ahli agar bisa dihindari kehancurannya. Manakala seseorang selalu menunaikan amanat yang diberikan kepadanya, maka dia akan menjadi manusia yang istimewa, meskipun tidak memperoleh kenikmatan duniawi.
3. Akhlak Yang Baik.
Akhlak yang baik merupakan kekayaan yang paling mahal harganya bagi seorang muslim. Karena itu, Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Itu pula sebabnya, manakala orang tua telah mendidik akhlak anaknya dengan baik, itu menjadi pemberian yang paling berharga ketimbang pemberian materi yang paling mahal sekalipun. Rasulullah Saw bersabda:
Tidak ada pemberian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pendidikan adab (akhlak) yang baik (HR. Tirmidzi).
Meskipun seseorang, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara telah mencapai kemajuan dan kemakmuran yang besar, hal itu dapat kita rasakan sebagai sesuatu yang tidak ada artinya kalau masyarakat memiliki akhlak yang mulia. Karena itu, seorang ulama yang bernama Syauqi Bey berkata: Suatu akan tegak apabila baik akhlaknya, bila akhlak hancur, maka hancurlah bangsa itu.
4. Tidak Serakah.
Tamak atau serakah merupakan salah satu sifat tercela. Meskipun seseorang telah memperoleh materi yang banyak, tapi kalau dia tidak bersyukur dan tidak ada puasnya, maka dia menjadi orang yang terasa miskin. Keserakahan ternyata bukan hanya membuat seseorang tidak pandai bersyukur, tapi juga untuk memperoleh kenikmatan yang lebih banyak dia akan menempuh cara-cara yang tidak halal dan merampas hak-hak orang lain, meskipun mereka orang yang dirampas hak-haknya itu tergolong miskin.
Rasa syukur kepada Allah Swt membuat seseorang memperoleh keberuntungan yang besar, karena memang sudah janji Allah untuk menambah nikmat-Nya kepada siapa saja yang bersyukur, Allah berfirman yang artinya: Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS 14:7).
Sementara orang yang tamak akan mengalami kerugian bagi dirinya sendiri dan merugikan orang lain, dia tidak memiliki rasa optimis terhadap hari-hari mendatang, selalu curiga terhadap kemajuan yang dicapai orang lain dan pada akhirnya dia tidak disukai oleh Allah Swt dan sesama manusia. Ketika seorang sahabat datang kepada Rasulullah Saw guna menanyakan tentang amalan yang akan membuat manusia dicintai Allah dan manusia, Rasulullah Saw menjawab: Hiduplah di dunia dengan zuhud (bersahaja), maka kamu akan dicintai Allah, dan janganlah tamak terhadap apa yang di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia (HR. Ibnu Majah).
Akhirnya, semakin kita sadari kalau keberuntungan dalam hidup di dunia tidak bisa semata-mata kita ukur dengan tinjauan materi. Karena itu, seandainya seseorang tidak memperoleh kenikmatan materi sekalipun, dia masih tergolong orang yang beruntung manakala menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Rabu, 29 Mei 2013
TAFSIR PERASANGKA BURUK
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Hujuraat : 12)
Asbabun nuzulnya:
Ayat ini turun berkenaan dengan seorang sahabat yang bernama Salman Al-Farisi apabila selesai makan, dia suka terus tidur dengan mendengkur. Pada waktu itu ada salah seorang yang mempergunjingkan perbuatannya, sehingga sampai terdenganr oleh nabi. Maka turunlah ayat ini yang melarang seseoarang mengumpat dan menceritakan kejelekan atau keaiban orang lain.
Ayat ini memulai dengan perkataan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang beriman yang berbunyi: (يا يهاالذ ين امنوا اجتنبوا كثيرا من الظن) hai orang-orang yang beriman jahuilah oleh kalian kebanyakan buruk sangka terhadap sesama muslim, maksudnya ayat ini melarang orang beriman berburuk sangka terhadap orang lain bukan hanya kepada orang islam saja, tetapi berlaku untuk umum atau semua orang. Dengan bertujuan agar terhindar dari bisikan-bisikan yang bisa merampas kebaikan yang ada dalam dirinya yang dilontarkan oleh sekitarnya, dan menjaga kehormatan setiap individu. Kemudian ayat ini memberikan sebuah penekanan yang berbunyi (ان بعض الظن اثم) sesungguhnya berburuk sangka sesama muslim (semua orang) dengan persangkaan yang buruk adalah dosa. Adapun riwayat yang mendukung ayat diatas adalah sebagai berikut:
Dalam sebuah riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda; “Hindarilah olehmu berburuk sangka karena buruk sangka itu berita yang amat dusta, dan janganlah kamu memata-matai orang lain, jangan mecari-cari berita tentangnya, jangan saling mengungguli dalam jual beli, jangan saling membenci dan jangan saling mendiamkan. Tidak dijakan kalian hamba-hamba Allah yang bersauadara . Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudarnya lebih dari tiga hari.
Riwayat lain, dari Abu Barzakh Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hai orang-orang yang beriman dengan lidahnya tetapi iman tidak masuk dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang Islam dan jalanlah kamu meneliti cacat-cacat mereka, karena baraang siapa yang meneliti cacat orang Islam, maka Allah akan meneliti cacatnya. Dan barang siapa yang diteliti cacatnya oleh Allah, maka dia akan dibukakan cacatnya ditengan rumahnya sendiri.
At-Tabrani juga meriwayatkan dari Harisah Ibnu Nu’mam ra. bahwa Rosulullah saw. bersabda: “Ada tiga hal yang lekat pada umatku, yaitu tayyarah (menduga hal buruk), dengki dan zhann (berburuk sangka terhadap orang lain). Seseorang laki-laki bertannya, “apakah yang dapat menghilangkan hal tersebut, ya Rasulullah dari orang yang memiliki sifat-sifat seperti itu?”, Rasulullah bersabda “ apabila kamu mendengki maka mohon ampunan kepada Allah, dan apabila kamu buruk sangka maka janganlah kamu memeriksa benar tidaknya, dan apabila kamu menduga maka laksanakan saja rencanamu.”
Menurut Sayyid Quthub, tatkala larangan disandarkan atas banyak berperasangka, sedang aturannya menyebutkan bahawa sebagian perasangka itu merupakan dosa, maka pemberitahuan dengan ungkapan ini intinya agar manusia menjahui buruk sangka apapun yang akan menjerumuskaannya kedalam dosa. Sebab, ketidak tauan sangkaannya yang manakah yang menimbulkan dosa. Sedang Al-Maraghi berpendapat bahwa, persangkaan yang buruk itu diharamkan terhadap orang yang disaksikan sebagai orang yang menutupi aibnya, sholeh, dan terkenal amanatnya. Adapun orang yang mempertontonkan diri sebagai orang yang gemar melakukan dosa, seperti orang yang masuk ke tempat-tempat pelacuran atau berteman dengan penyayi yang cabul, maka tidaklah diharamkan berburuk sangka terhadapnya. Dari urian pendapat diatas penulis berpendapat bahwa, boleh seseorang itu berburuk sangka kalau memang sudah terbukti orang tersebut orang yang tidak baik, tetapi untuk orang yang sudah baik maka tidak boleh sesorang untuk berperasangka terhadapnya karena hal itu diharamkan, seperti dalam sebuah riwayat mengatakakan, “sesungguhnya Allah mengharamkan darah dan kehormatan orang Islam, dan disangka dengan perasangkaan yang buruk”. Sehingga dalam konteks perasangka buruk, itu tidak boleh bagi orang yang baik, boleh bagi orang yang buruk akhlak.
Setelah Allah SWT. Menyuruh untuk menjauhi kebanyakan buruk sangka, maka Allah melarang pula dari mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. yang berbunyi, (ولا تجسسوا ولايغتب بعضكم بعضا) adapun hadits yang mendukung dengan potongan ayat ini seperti riwayat yang diatas adalah riwayat bukhari dan muslim dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda; “Hindarilah olehmu berburuk sangka karena buruk sangka itu berita yang amat dusta, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, jangan mecari-cari berita tentangnya, jangan saling mengungguli dalam jual beli, jangan saling membenci dan jangan saling mendiamkan. Tidak dijakan kalian hamba-hamba Allah yang bersauadara . tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudarnya lebih dari tiga hari.”
Ada beberapa pengertian mengenai At-Tajassus sebagai berikut;
- At-Tajassus (memata-matai) adalah mencari-cari apa yang tersembunyi darimu.
- At-Tajassus (merasa-rasai) adalah mencari-cari berita mengenai saudaramu.
- At-Tajassus maksudnya berjual beli atas jual beli orang lain dengan cara saling mengungguli harga.
Menurut Sayyid Quthub, At-Tajassus kadang-kadang merupakan kegiatan yang mengiringi dugaan dan kadang-kadang sebagai kegiatan awal untuk menyingkap aurat dan mengetahui keburukan. Adapun dalil-dalil hadits yang memperjelas dan memperkuat ayat diatas adalah sebagai berikut;
Imam ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad Dijjin, sekretaris Uqbah, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda; “Barangsiapa yang menutupi aib seorang mukmin, dia bagaikan menggali anak yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya.”
Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Rasyid bin Sa’ad, dari Mu’awiyah bin Abi Safyan, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu menyelidiki aib manusia, berarti kamu mencelakakan mereka atau nyaris mencelakakan mereka.”
Sedang ayat yang berbunyi, janganlah kamu menggunjingkan atau mencaci maki satu sama lain dengan sesuatu yang tidak disukai, maksudnya adalah menyebut-nyebut dengan terang-terangan, atau dengan isayarat, atau dengan cara lain yang dikategorikan gunjingan. Karena hal yang demikian dapat mengakibatkan api amarah orang yang digunjing, karena hati seseorang apabila diusik dengan sesuatu yang tidak mengenakan akan tersa sakit walau hal yang digunjingkan itu tidak sesuai dengan kennyataannya, apalagi sesuai dangan kennyataan. Adaapun sesuatu yang tidak disukai ketika digunjingkan adalah mengenai hartanya, agama, rupa, akhlak, harta, anak istri, pembantu, pakaian, dan lain-lain. menurut al-Hasan ghibah adalah kamu berkata-kata mengenai kejelekan orang lain tentang hal-hal yang ada padanya, atau hal-hal yang tidak ada padanya. Selanjutnya Allah memberikan perumpamaan bagi orang yang suka buruk sangka dan ghibah, dengan perumpamaan orang yang memakan daging saudarnya yang sudah mati. mengapa Allah memberikan perumpaman demikian? Karena ghibah tersebut berarti merobek-robek kehormatan, menghancurkan hati, yang serupa dengan merobek-robek daging. Kalau seseorang tidak mau atau tidak suka melakukannya maka janganlah berbuat demikian, karena hal itu merugikan dirisendiri dan orang lain.
Diakhir ayat tersebut berbunnyi (واتقواالله ان الله تواب رحيم) dan bertaqwalah kepada Allah (atas apa yang diperintahkan dan dilarang terhadapmu, waspadlah dan takutlah kepada Allah) sesungguhnya Allah menerima taubat (dari orang yang mau bertaubat kepadanya atas dosa yang ia telah lakukan) lagi maha belaskasih sayang terhadap orang yang mau bertau bat kepadanya.
B. Cara Menghindari Buruk Sangka
Adapun solusi untuk menghidari ghibah dan buruk sangka adalah sebagai berikut;
- Berteman dengan orang-orang yang baik atau benar dalam tuturkata, sehingga bisa masuk dalam budipekertinya dan merasa nyaman bila bersamanya karena mereka adalah perisai ketika mengalami musibah dan hiasan ketika senang.
- Jangan mudah bersumpah kepada orang lain, karena dengan mudah bersumpah bisa membuka peluang adannya ghibah, tetapi berikanlah jawaban yang pasti jangan meragukan.
- Jangan bertannya tentang sesuatu yang tidak ada pada orang lain, sehingga sesuatu itu seolah-olah ada pada dirinya.
- Jangan berbicara sesuatu yang tidak mengenakkan kepada orang yang diajak bicara.
- Berkatalah dengan jujur bila ditanya tentang diri yang diajak bicara, walau hal itu menyakitkanya.
C. Macam-macam Kebolehan ghibah
Ghibah tidak haram apabila dengan tujuan yang benar menurut syara’ yang tidak mungkin tujuan itu tercapai dengan melakukan ghibah adalah sebagai berikut:
- Penganiayaan dalam rumah tangga maksudnya orang dianiaya boleh mengadukan halnya kepada orang yang ia sangka, baik pengaduan secara keluarga, kepolisi atau pengadilan.
- Meminta tolong untuk merubah keburukannya dengan cara menceritakan semua kejelakannya dengan masud supaya sadar dengan keburukannya.
- Memberi peringatan atau rambu-rambu agar waspada seperti cacatnya para perowi dan orang yang berani memberi fatwa, padahal bukan ahlinya.
D. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan bahwa buruk sangka itu tidak boleh dilakukan kepada orang yang sholeh, sedang kepada orang yang buruk akhlak boleh dilakukan hanya untuk kehati-hatian atau kewaspadaan terhadapnya, sedangan ghibah tidak boleh atau haram apalagi disebar luaskan baik orang yang buruk akhlak atau orang yang sholeh. Dengan pengecualian yaitu untuk tujuan yang benar menurut syarat yang tidak mungkin tujuan itu tercapai dengan melakukan ghibah itu dibolehkan. Keburakan seseorang itu bisa terhapus menjadi bersih dengan cara bertaubat menyesali perbuatannya dengan sungguh-sungguh tidak mengulanginya, dan meminta maaf terhadap orang yang pernah dighibah atau yang diburuk sangkai.
E. Penutup
Demikian yang bisa penulis sampaikan mudah-mudahan bermanfaat, apabila ada penulisan yang salah atau penjelasannya yang kurang tepat, penulis mohon kritik dan saran yang membangun, agar penulis lebih sempurna lagi dalam menyusun makalah.
F. Referensi
- Al-Quran dan Terjemah di Microsoft Word. Surat Al-Hujuraat ayat 12.
- K.H.Q. Shalaeh dkk, Asbabun Nuzul (latar belakang historis turunnya ayat-ayat Al-Qur’an). Bandung: CV Diponegoro. 2000.
- Sayyid Quthub, Penerjemah; As’ad Yasin, dkk. Tafsir fi Zhailail-Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press, 2004.
- Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Penerjemah; Bahrun Abu Bakar, dkk. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV Toha Putra. 1993.
Selasa, 07 Mei 2013
MENGENALI AKHIRAT DENGAN JIWA
"Hati yang tercerahkan mempunyai jendela yang terbuka ke arah dunia ruhani
sehingga ia dapat mengetahui penyebab segala kerusakan dan kebahagiaan. Ia
mengetahui bukan dari kabar angin atau kepercayaan tradisi...onal, melainkan
bisa dialami secara nyata. Sangat jelas dan nyata, sejelas seorang dokter yang
mengetahui penyebab penyakit atau masalah kesehatan.
Ia akan mengetahui bahwa pengetahuan tentang Allah dapat menjadi obat bagi jiwa, sedangkan kejahilan dan dosa akan menjadi racun yang merusak.
Banyak orang, termasuk ulama, karena taklid buta terhadap pendapat orang lain, tak punya keyakinan yang benar mengenai kebahagiaan datau penderitaan jiwa di akhirat. Sedangkan, orang yang mau mempelajari hal ini dengan pikiran yang bersih dari prasangka akan sampai pada keyakinan yang. Jelas tentang masalah ini.
Kematian akan mengakibatkan keadaan berbeda pada dua jenis jiwa yang dimiliki manusia, yakni jiwa hewani dan jiwa ruhani. Jiwa ruhani bersifat malakut.
Sementara jiwa hewani bertempat di hati, dari sana menyebar seperti uap ke semua anggota tubuh, memberi tenaga atau kemampuan melihat pada mata, mendengar pada telinga, dan seluruh anggota tubuh lainnya sehingga mereka dapat menjalankan fungsinya.
Hal ini seperti sebuah lampu di sebuah pondok yang cahayanya menyebar ke dinding-dinding. Hati adalah sumbu lampu ini, dan jika aliran minyaknya terputus karena suatu sebab, maka lampu ini akan mati. Seperti itulah jiwa hewani mengalami kematian.
Ini berbeda dengan jiwa ruhani atau jiwa manusiawi.
Ia akan mengetahui bahwa pengetahuan tentang Allah dapat menjadi obat bagi jiwa, sedangkan kejahilan dan dosa akan menjadi racun yang merusak.
Banyak orang, termasuk ulama, karena taklid buta terhadap pendapat orang lain, tak punya keyakinan yang benar mengenai kebahagiaan datau penderitaan jiwa di akhirat. Sedangkan, orang yang mau mempelajari hal ini dengan pikiran yang bersih dari prasangka akan sampai pada keyakinan yang. Jelas tentang masalah ini.
Kematian akan mengakibatkan keadaan berbeda pada dua jenis jiwa yang dimiliki manusia, yakni jiwa hewani dan jiwa ruhani. Jiwa ruhani bersifat malakut.
Sementara jiwa hewani bertempat di hati, dari sana menyebar seperti uap ke semua anggota tubuh, memberi tenaga atau kemampuan melihat pada mata, mendengar pada telinga, dan seluruh anggota tubuh lainnya sehingga mereka dapat menjalankan fungsinya.
Hal ini seperti sebuah lampu di sebuah pondok yang cahayanya menyebar ke dinding-dinding. Hati adalah sumbu lampu ini, dan jika aliran minyaknya terputus karena suatu sebab, maka lampu ini akan mati. Seperti itulah jiwa hewani mengalami kematian.
Ini berbeda dengan jiwa ruhani atau jiwa manusiawi.
Jiwa ruhani tak terbagi dan dengan jiwa itulah manusia dapat mengenali Allah. Bisa dikatakan, ia merupakan pengendara bagi jiwa hewani. Dan, ketika jiwa hewani musnah, jiwa ruhani tetap ada. Keadaannya serupa dengan penunggang kuda yang telah turun atau pemburu yang tak lagi bersenjata.
Kuda dan senjata itu adalah anugerah bagi jiwa ruhani agar ia bisa mengejar dan menangkap keabadian cinta dan pengetahuan tentang Allah. Jika berhasil, ia pasti akan merasa lega dan bahagia meski senjata atau tunggangannya telah meninggalkan dirinya; ia tak akan berkeluh kesah.
Maka dari itu, Rasulullah Saw bersabda, "Kematian adalah hadiah Tuhan yang diharap-harapkan kaum beriman." Namun demikian, ia akan celaka dan menderita jika kuda atau senjata itu telah hilang sedang ia belum berhasil meraih tujuannya. Kesedihan dan penyesalannya sangat tak terbayangkan."
--Imam Al-Ghazali dalam Kimiya As-Sa'adah
Minggu, 05 Mei 2013
: PERKARA YANG DAPAT MERUSAK AMAL-AMAL BAIK :::
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
1. Al istighlal bi’uyubil kholqi (sibuk dengan aib orang lain) sehingga lupa pada aib sendiri. Semut diseberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.
2. Qaswatul qulub (hati yang keras)
Kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang.Sulit menerima nasehat.
3. Hubbun dunya (cinta mati terhadap dunia)
Merasa hidupnya hanya di dunia saja maka segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di
akhirat.
4. Qillatul haya’(sedikit rasa malunya)
Jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.
5. Thulul amal (panjang angan-angan)
Merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.
6. Dhulmun la yantahi (kezaliman yang tak pernah berhenti)
Perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk
meninggalkan kemaksiatan tsb.
Semoga kita semua dijauhkan dari 6 perkara ini sehingga
tetap istiqomah dalam ketaqwaan..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
1. Al istighlal bi’uyubil kholqi (sibuk dengan aib orang lain) sehingga lupa pada aib sendiri. Semut diseberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.
2. Qaswatul qulub (hati yang keras)
Kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang.Sulit menerima nasehat.
3. Hubbun dunya (cinta mati terhadap dunia)
Merasa hidupnya hanya di dunia saja maka segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di
akhirat.
4. Qillatul haya’(sedikit rasa malunya)
Jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.
5. Thulul amal (panjang angan-angan)
Merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.
6. Dhulmun la yantahi (kezaliman yang tak pernah berhenti)
Perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk
meninggalkan kemaksiatan tsb.
Semoga kita semua dijauhkan dari 6 perkara ini sehingga
tetap istiqomah dalam ketaqwaan..
Selasa, 10 Mei 2011
Mencari Sujud Kita Yang Hilang

“Setetes air akan terlupakan jika ada segelas air, segelas air akan terlupakan jika ada seember air dan seember air akan terlupakan saat melihat kolam air melimpah ruah, sayangnya waktu berjalan berbanding terbalik, lautan luas, danau, kolam dan seember air hanya ada dimasa muda kita.
Dan semakin kita tua, kita hanya bisa mendapatkan setetes air di akhir hidup kita, dan dua sujud itu bagai setetes air yang melepas dahaga...”
Siang itu aku terbaring lemah di tempat tidur, ku usap kening yang basah dan ku basuh kembali dengan kompress yang telah disiapkan oleh istriku sejak pagi tadi. Ku coba menenangkan diri dan merenungi, mengapa aku bisa terserang penyakit seperti ini.
Sudah tiga hari ini aku merasakan badanku sangat panas, bibir kering dan badan pegal-pegal, tapi aku tidak tahu mengapa seluruh sendiku terasa nyeri sekali. Aku sudah berusaha pergi kedokter, dan dokter menyatakan aku hanya sakit kelelahan biasa, dan tak perlu ada yang dikhawatirkan.
Hari keempat pada sepertiga malam, kurasakan badanku tak bisa bergerak sama sekali, aku terbaring lemah di kasur, hanya bisa memandang langit-langit dengan bola mata yang senantiasa basah oleh airmata. Saat-saat seperti ini kematian terasa begitu mendekat dan kecongkakan sebagai manusia lenyap dari sanubari.
Berganti dengan rasa takut akan ajal yang akan segera tiba sementara jiwa belum siap menghadapinya. Hanya tangisan dan tangisan mengisi detik demi detik, menyesali waktu yang terlewat begitu saja, menyesali masa yang berlalu tanpa makna. Seraya bibir bertasbih dan hati memohon janji kepada sang pemilik jiwa untuk diberi sehat kembali agar bisa beribadah dengan lebih baik dari hari ini dan hari kemarin.
Begitulah janji ucap seorang hamba ketika dalam posisi lemah, ketika dalam posisi tertawan oleh takdir bahwa kelak manusia akan mati meninggalkan dunia dan pergi menemui rabbnya. Aku yang saat itu tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memohon kepada rabb agar diberi kesempatan beribadah kepadanya, melaksanakan qiyamullail meski aku tak tahu apakah sanggup atau tidak, Aku hanya ingin sholat dengan khusuk, di saat-saat akhir kekuatan masih merayap dalam tubuh ini, disaat aku masih bisa bersujud meski dua sujud saja.
Dulu saat aku sehat, jangankan dua sujud, ribuan sujud pun aku masih sanggup, tetapi ribuan sujud itu aku sia-siakan, berlalu bagai debu ditiup angin. Kini, hanya dua sujud saja yang aku persembahkan untuk Tuhanku aku tak mampu, hanya dua sujud saja aku tak bisa, sampai aku memohon-mohon dengan air mata kepada Rabbku agar diberi kekuatan menegakan dua sujud itu.
Ya robbi, hanya dua sujud saja aku tak bisa memberikan ibadah terbaikku untuk Mu. Ya Tuhanku, bagaimana berharganya dua sujud ini bagiku, dua sujud yang pernah aku sia-siakan dalam sehat dan waktu luangku. Dua sujud yang membedakan seorang mukmin dengan fajir, dua sujud yang membuat hamba mudah dikenali pada yaumil mahsyar, dua sujud yang memberikan kedamaian pada malam-malam seorang hamba yang soleh, dua sujud yang memberikan keadilan pada para pemimpin yang takut kepadamu disaat manusia lain terlelap tidur.
Dua sujud yang membuat si papa merasa lebih kaya dari para agniya yang masih sibuk menghitung uangnya meski hari telah larut, dua sujud yang mampu memberikan keberkahan dan kesehatan para hambamu para ahli qiyamul lail, dan dua sujud itu pula yang telah aku lupakan selama ini, sehingga aku tak siap menghadapi terkaman takdir bahwa aku harus terbaring disini. Ya robbi, ampuni aku...ya robbi kasihani aku...ya robb beri aku kesempatan menikmati dua sujud itu...ya robb...amin..
Inilah Cara Mempraktekkan Gaya 69 yang Diajarkan Islam

Apakah para pembaca situslakalaka tahu gaya 69 yang baik dan benar? Anda pernah melaksanakan gaya 69 ini dalam kehidupan rumah tangga? Dalam kehidupan sehari-hari penerpan gaya 69 sering tidak dilakukan dengan semestinya ini sehingga tidak jarang tidak mendapat ketenangan hidup.
Inilah gaya 69 yang baik dan benar sesuai dengan ajaran islam. Jika anda seorang muslim anda harus melaksanakan 69 menurut aturan ini agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Cekidot Coba laksanakan 6 gaya dan hindarkan 9 gaya ini maka anda akan mendapatkan kenikmatan yang sempurna….
6 Gaya hidup yang harus dilaksanakan:
1. Yakin dengan sebenarnya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
2. Sholat 5 waktu jangan sampai ditinggalkan usahakan berjamaah di Masjid
3. Belajar terus ilmu agama dan jangan lupa zikir / ingat selalu kepada Allah.
4. Sayangi sesama saudara muslim dan beraklak mulia kepada semua makhluk ciptaan Allah SWT.
5. Ikhlas dalam berbuat sesuatu tanpa mengharap imbalan semata-mata karena Allah SWT.
6. Berjuang membela agama dengan cara mendakwahkan agama dimanapun agan berada.
9 Gaya hidup yang harus dihindarkan:
1. Syirik (yakin kepada selain Allah).
2. Ingkar kepada Nabi dengan cara mendustakan sunnah-sunnahnya.
3. Mengikuti gaya dan pola hidup yang tidak islami dalam perbuatan sehari-hari (terikut arus modernisasi).
4. Menghabiskan waktu dengan pekerjaan sia-sia demi kesenangan sesaat (malas sholat).
5. Tidak mau belajar agama.
6. Tidak pernah ingat kepada Allah.
7. Egois dan individualistis
8. Semua tindakan yang dilakukan harus ada imbalan.
9. Terlalu cinta dunia dan takut mati.
Itulah gaya 69 yang benar benar diajarkan oleh Islam, sekelumit artikel yang mempunyai makna dan semoga bermanfaat bagi kehidpan kita..( ada yang kecele nih, wkwkwkwkkwkw)
Langganan:
Komentar (Atom)